Budaya Berburu Pemain dari Klub Degradasi di Eropa

Posted on

Budaya Berburu Pemain dari Klub Degradasi di Eropa – Memang sudah guratan takdir-Nya, bahwa klub yang terdegradasi dari kasta pertama harus siap-siap ditinggal pemain andalannya. Di liga-liga top eropa, fenomena ini bukan sekadar latah demi mendapat pemain bagus dengan harga murah, namun sudah menjadi budaya.

Budaya Berburu Pemain dari Klub Degradasi di Eropa

Budaya Berburu Pemain dari Klub Degradasi di Eropa

Ada berbagai alasan yang mendasari terciptanya budaya ini. Bukan hanya klub rival yang ingin dapat pemain bagus dengan harga miring, namun juga klub itu sendiri yang butuh uang. Sebuah klub pasti akan merugi akibat terdegradasi dari kompetisi kasta tertinggi.

Utamanya, klub yang terdegradasi merugi akibat sponsor yang menarik diri. Jika tidak “pergi”, biasanya sponsor akan mengurangi nominal modal ke klub. Selain itu, klub yang terdegradasi harus siap-siap mengalami penurunan pemasukan akibat uang hak siar yang menurun seiring hanya akan berkompetisi di kasta kedua.

Itu dari pihak klub, sementara para pemain juga punya alasan untuk memutuskan pergi dari klubnya yang terdegradasi. Alasan mayoritasnya adalah demi menyelamatkan karier. Untuk pemain muda potensial/wonderkid, klub bakal sulit mencegah mereka pergi.

Walau butuh amunisi terbaik agar bisa kembali promosi, klub tentu tak ingin kehilangan kesempatan untuk menjual pemainnya ketika memiliki harga jual tinggi. Sudah bukan rahasia lagi jika klub yang terdegradasi itu lagi BU, alias butuh uang. Dan pemain yang punya peminat di pasar bursa transfer bakal ditawarkan oleh agennya ke klub-klub peminat tersebut.

Berbagai alasan dari berbagai sudut pandang itulah yang membuat berburu pemain dari klub degradasi menjadi sebuah budaya, terutama di sepak bola eropa. Namun, terkadang ada sebuah anomali dari fenomena ini, yaitu beberapa pemain bintang yang menyatakan sumpah setia untuk membantu klubnya kembali promosi.

Bertahan untuk menjadi seorang legenda atau pergi demi karier yang lebih menjanjikan

Di Serie A Italia pernah terjadi fenomena anomali ini. Ketika Juventus dihukum atas skandal calciopoli, deretan pemain bintangnya memutuskan pergi seiring Juventus yang turun kasta. Namun, Del Piero, Nedved, Trezeguet, dan Buffon memutuskan tetap tinggal menemani “Si Nyonya Tua” hingga promosi kembali ke Serie A.

Kisah lebih romantis pernah ditorehkan oleh seorang kapten tim legendaris di Italia. Ketika Parma dinyatakan bangkrut pada 2015, kapten mereka kala itu, Alessandro Lucarelli jadi satu-satunya pemain yang menemani Parma memulai kompetisi dari kasta terbawah, Serie D hingga promosi kembali ke Serie A 3 musim berikutnya.

Akhirnya, kita sekarang mengenal Del Piero, Nedved, Trezeguet, Buffon, dan Lucarelli sebagai seorang legenda. Nama mereka juga terpatri di Hall of Fame masing-masing klub. Mereka adalah contoh pemain yang menjadi seorang legenda di klubnya dan menjadi seorang yang sangat dicintai fansnya.

Tapi ingat, mereka adalah anomali dari gelombang eksodus pemain bintang yang memilih hengkang dari klub yang terdegradasi. Memang kenyataannya, para pemain yang masih punya perjalanan karier panjang lebih memilih pindah klub. Mereka yang diminati klub besar atau klub impiannya juga pasti sulit untuk menolak tawaran klub tersebut.

Selain klub yang terdegradasi, klub papan bawah di liga eropa juga punya peluang untuk kehilangan pemain andalannya, apalagi jika klub tersebut diterpa masalah finansial. Werder Bremen adalah contohnya. Walau sudah pasti bertahan, tapi ada satu pemain yang terang-terangan ingin pergi.

Adalah Milot Rashica, winger timnas Kosovo. Faktanya, sudah sejak musim lalu ia telah banyak memikat klub-klub besar eropa seperti Liverpool, RB Leipzig, dan AC Milan. Bahkan Bremen sendiri tak menampik kabar itu dan terbuka dengan tawaran klub lain asal harganya tidak kurang dari nilai jualnya.

Norwich nasibnya sama seperti Espanyol dan Bremen

Sementara di Inggris, kita baru saja mendengar bahwa Norwich City jadi tim pertama yang resmi terdegradasi setelah kalah 0-4 dari West Ham pada Sabtu (11/7) malam WIB. Fakta itu tentu sangat menyakitkan, dan Norwich juga bakal mengalami apa yang dialami klub degradasi lain seperti Dusseldorf dan Espanyol.

Bahkan menurut laporan The Sun (9/7), Norwich berharap bisa melego 4 pemainnya sekaligus di bursa transfer nanti. Mereka adalah Ben Godfrey, Max Aarons, Teemu Pukki, dan Todd Cantwell. Masih dari laporan The Sun, Aarons dilaporkan dimintai Jose Mourinho di Spurs. Ben Godfrey lebih sangar lagi karena diminati Liverpool, Dortmund, Leipzig, Roma, dan Milan. Menurut Calciomercato dan Sky Sports, pemain timnas Inggris U-21 itu memiliki klausul pelepasan 50 juta euro, namun diyakini bahwa klub peminat bisa mendapatkan jasanya dengan setengah harga saja. Krisis finansial mereka tak bisa ditutupi lagi setelah diterpa efek pandemi covid-19. Norwich pun harus menjual pemain demi menutup rugi dan membangun ulang skuat untuk musim depan.

Semua akan hengkang pada waktunya, hanya tinggal menunggu waktu saja
Di era sepak bola modern seperti sekarang ini ketika uang sudah jadi “dewa”, sulit untuk melihat seorang pemain bagus/pemain bintang yang enggan hengkang dari klub yang terdegradasi. Sulit juga melihat klub yang BU mati-matian mempertahankan pemain bintangnya yang pasti memakan banyak biaya gaji.

Aston Villa saja yang belum resmi terdegradasi dari Premier League sudah diterpa isu kepergian Jack Grealish. Kapten Villa itu bahkan telah dilabeli seharga 80 juta pounds, tapi jika Villa degradasi, mereka harus siap melepasnya dengan kisaran harga 30-40 juta pounds saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *