Primeira Liga Telah Berakhir Belum Ada Cinderella dari Portugal

Posted on

Primeira Liga Telah Berakhir Belum Ada Cinderella dari Portugal – Salah satu kompetisi di Eropa yaitu Primeira Liga atau Liga Portugal kasta tertinggi telah mencapai pekan terakhirnya. Terdapat banyak duel seru termasuk adanya bigmatch antara Braga vs FC Porto. Bisa dikatakan demikian, karena keduanya langganan menghuni posisi 4 besar di liga. Khusus untuk FC Porto, mereka mengakhiri musim 2019/20 sebagai juara. Itulah mengapa, laga ini adalah bigmatch.

Primeira Liga Telah Berakhir Belum Ada Cinderella dari Portugal

Primeira Liga Telah Berakhir Belum Ada Cinderella dari Portugal

Namun, sayangnya klub yang diperkuat oleh mantan pemain Real Madrid, Pepe, justru menelan kekalahan dari Braga. Klub asal kota Braga ini berhasil menang di laga kandangnya dan membuat mereka berada di urutan ketiga klasemen akhir. Finisnya Braga di tiga besar membuat “The Big Three” gagal menguasai posisi tiga teratas. Karena, Sporting CP atau yang biasa kita kenal sebagai Sporting Lisbon harus puas berada di posisi ke-4. Meski Porto kalah di laga ini, mereka tetap keluar sebagai juara dengan koleksi 82 poin.

Alias unggul 5 poin dari Benfica. Menariknya, keduanya juga masih akan berduel untuk menjadi yang terbaik di kancah domestik dengan partai final Piala Portugal yang akan dihelat pada 2 Agustus nanti. Melihat situasi tersebut, Portugal lagi-lagi akan mengirimkan wakil yang sama di kancah Eropa dengan keberadaan Porto dan Benfica. Tidak ada kejutan, termasuk dengan adanya Braga. Meski ini adalah pencapaian terbaik mereka dalam 5 musim terakhir. Posisi ketiga nyatanya pernah mereka capai pada 2011/12. Ironisnya, mereka butuh 8 musim untuk mengulangi pencapaian yang sama.

Ketiganya selama 1 dekade terakhir selalu mengisi tiga posisi teratas

Hal ini berbeda dengan tiga klub teratas Porto, Benfica, dan Sporting CP. Hanya Braga dan Pacos de Ferreira yang menyelip di antara dominasi mereka. Tidak mengherankan jika kemudian Liga Portugal identik dengan Porto, Benfica dan Sporting Lisbon. Masyarakat di Asia, khususnya di Indonesia pun kebanyakan mengenal tiga nama itu karena mereka lebih sering muncul di kompetisi Eropa, khususnya Liga Champions.

Untuk musim depan Portugal akan kembali diwakili FC Porto menggantikan Benfica di musim sebelumnya–dalam pertarungan sengit di Liga Champions. Sedangkan Benfica akan berada di Liga Etopa–seperti bertukar selimut. Jika Benfica yang menjuarai Piala Portugal, maka ada peluang bagi Braga untuk turut serta mewakili Portugal di Liga Eropa meski itu belum dapat dipastikan. Karena, selain harus menunggu siapa yang juara, ini juga berkaitan dengan jatah di Liga Portugal yang hanya meloloskan 2 wakil ke zona Eropa.

Terbatasnya tiket ke Eropa membuat Liga Portugal menjadi membosankan, karena yang diprediksi untuk juara hanya berputar di antara tiga nama tadi. Selain itu, rekomendasi pemain bintang yang hendak mengakhiri karier profesionalnya di Portugal juga masih di antara tiga klub tersebut. Termasuk dalam hal memunculkan pemain muda yang berprospek cerah, mereka sebagian besar berasal dari Porto, Benfica, dan Sporting Lisbon. Seperti Cristiano Ronaldo, Joao Felix, dan Bruno Fernandes. Cristiano Ronaldo berangkat dari Sporting Lisbon sebelum menjadi bintang muda bersinar di Manchester United. Begitu pula dengan Joao Felix yang moncer di Benfica sebelum menjadi andalan Atletico Madrid.

Tentang perjalanan karier di level senior Bruno juga sudah lebih matang

Menariknya, sebelum memiliki Joao Felix, Atletico juga pernah merasakan kehebatan pemain dari Primeira Liga, yaitu Radamel Falcao yang sebelumnya memperkuat FC Porto. Situasi yang dialami Atletico juga terjadi di Man. United yang kembali memperoleh bintang dari Portugal, Bruno Fernandes. Seolah ingin sedikit dejavu, klub asal Bruno juga sama seperti Cristiano Ronaldo, Sporting Lisbon. Hanya, yang membedakan keduanya adalah Bruno dididik oleh klub asal Infesta dan Boavista. Keduanya adalah klub yang berada di kota Porto, bukan Lisbon.

Karena, dia sudah pernah membela klub di Italia dengan dua diantaranya adalah klub papan tengah Serie A, Udinese dan Sampdoria. Ketika kembali ke Portugal, dia juga langsung mendapatkan klub yang bersaing di papan atas, sehingga level kompetitifnya sangat terjaga. Ini yang membuat pemain dan klub yang kompetitif di Portugal saling berkaitan. Lalu, apakah kisah Cinderella yang muncul di Premier League (Leicester City) dan Super Lig (Istanbul Basaksehir) tidak akan terjadi di Primeira Liga.

Juaranya Leicester City di Premier League pada 2015/16 pernah menjadi kisah manis yang mungkin sulit terjadi lagi. Karena, situasi itu muncul sepenuhnya tanpa dugaan. Bagaimana bisa menduga Leicester City juara di musim tersebut dengan rekor musim sebelumnya adalah finis di posisi ke-14? Namun, Leicester mampu melakukannya, meski kini mereka sulit untuk kembali bersaing secara konstan di papan atas. Situasi ini akan berbeda jika seandainya Wolves atau Sheffield United di musim depan juara Premier League. Karena, mereka di musim ini sudah memberikan penampilan yang luar biasa dengan berada di zona 10 besar.

Musim Ini League Sehingga kisah tentang Leicester akan sulit diulang

Walau demikian, juaranya tim yang tak pernah disangka akan tetap menarik, meski tim itu sudah konsisten di zona 3 atau 4 besar di setiap akhir musim, seperti Basaksehir. Basaksehir sebelum juara Liga Turki musim 2019/20, mereka sudah menandai peluang mereka untuk menjadi juara dengan konsisten di zona papan atas. Namun jika melihat statistik juara Super Lig, jelas tidak banyak orang yang menjagokan tim selain Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas untuk juara.

Ketiga klub asal Istanbul itu memang sudah menjadi akar dan pohon bagi sepak bola Turki dalam sepanjang sejarah sepak bola negara Eurasia tersebut. Ini membuat publik sepak bola global juga akan terbiasa untuk melihat ketiga klub itu merayakan pesta di akhir musim. Tetapi kehadiran Basaksehir seolah menjadi pengejut, bahwa Super Lig bisa dijuarai oleh klub selain “Big Three” tersebut. Walau pada kenyataannya, Basaksehir juga merupakan klub lainnya asal Istanbul, tetapi raihan mereka patut dimasukkan ke kategori Cinderella-nya sepak bola.

Jika merujuk pada pencapaian Braga di musim ini, maka di musim depan seharusnya mereka dapat menjadi bagian dari tim perebut gelar juara. Para pemainnya harus bertahan dan klub juga harus berani mendatangkan pemain senior berkualitas seperti yang dilakukan Porto dan Benfica. Apabila hal ini dilakukan, kemungkinan besar, Braga akan menjadi Cinderella selanjutnya di sepak bola. Tentu, ini akan membuat sepak bola semakin menarik untuk terus dinikmati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *